RFID Radio Frequency Identification
Just browse my folder files and found an interesting document. I do not know where it comes from but later after i already know about where it comes and who are the person work on this document, i will let u know .
First ,
Pemberian identitas pada suatu barang dapat dilakukan dengan cara konvensional yaitu memberikan label tulisan pada barang atau memberi label dengan barcode. Identifikasi pada suatu barang dapat berfungsi memberikan abstraksi keterangan pada barang tersebut. Entri data identitas barang serta keterangannya ke database, yang akan disimpan pada media penyimpanan pada pelabelan identitas secara konvensional akan membutuhkan waktu yang lama, serta harus melakukan pengetikan satu persatu yang kemungkinan terjadi kesalahan penulisan data. Pemasukan data seperti ini dapat diperbaiki dengan cara pembacaan data secara optik yaitu menggunakan barcode. Barcode dapat dilekatkan pada barang dan pembacaannya dapat dilakukan dengan cepat serta dapat mengeliminasi kesalahan pengetikkan setiap kode barang. Dengan menggunakan barcode masih ditemui banyak kelemahan yaitu label barcode pada permukaan yang tidak rata sulit sekali dibaca oleh scanner, arah pembacaannya juga sudah ditentukan (line of sight) dan masih dilakukan satu persatu. Kode barcode sendiri makin lama makin terbatas jumlahnya, sehingga untuk 5 sampai 10 tahun yang akan datang barcode akan dinilai tidak efektif lagi [3]. Dari permasalahan seperti tersebut di atas maka diperlukan suatu teknologi baru untuk mengidentifikasi barang yang mempunyai banyak keunggulan yaitu pembacaan dapat dilakukan secara cepat, memungkinkan pembacaannya dilakukan secara otomatis, serta pemberian idetifikasi pada barang memungkinkan untuk satu barang satu identitas (ID yang unik).
Saat ini sudah ada aplikasi teknologi baru yang dapat mengidentifikasi barang secara otomatis atau sering disebut dengan auto-ID. Auto-ID merupakan inti untuk sistem otomatisasi kontrol inventori dan manajemen rantai aliran persediaan.
Radio Frequency Identification (RFID) merupakan salah satu bentuk teknologi auto-ID. Teknologi RFID pertama kali digunakan untuk mengidentifikasi kawan atau lawan sejenis pesawat terbang pada perang dunia II. Pesawat perang dilengkapi dengan radio transponder yang akan memberi respon apabila diberi sinyal introgated [6].
RFID transponder atau tag berisi identitas obyek barang. Data ini terdiri dari Merk barang, jenis, model dan nomor serial yang unik, atau data yang diperlukan untuk memberikan abstraksi keterangan barang. Tag RFID mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan sistem optical barcode. Data yang ada pada tag dapat dibaca secara otomatis : arah pembacaanya tidak langsung (non line of sight), pembacaannya dapat menembus bahan nonkonduktor seperti kertas karton atau kardus, dapat dibaca beberapa ratus tag perdetik dan dapat dibaca dari jarak beberapa meter tanpa memperhatikan arah pembacaannya.
Pemberian label identitas suatu barang untuk setiap sistem (sistem konvensional dengan label tulisan pada barang, sistem optical reader dengan menggunakan barcode dan sistem auto identification dengan menggunakan RFID) mempunyai masalah keamanan yang berbeda. Setiap peningkatan suatu sistem akan menimbulkan masalah resiko ancaman dan keamanan yang baru. Tag RFID secara fisik mempunyai bentuk seperti label yang terdiri dari microchip yang terbuat dari bahan silikon yang berisi identitas dan data keterangan suatu barang. Hal ini dapat menimbulkan masalah keamanan baik keamanan bersifat fisik, kemanan yang berhubungan dengan masalah personal, keamanan data dan media serta teknik komunikasi dan keamanan dalam operasi.
Berdasarkan resiko dan masalah ancaman keamanan penggunaan auto-ID dengan sistem RFID, maka perlu dilakukan suatu penanganan secara khusus masalah resiko ancaman dan keamanan pada RFID. Pada penulisan tugas akhir mata kuliah sistem keamanan lanjut ini dibahas tentang “Keamanan pada RFID”.
3. Radio Frequency Identification (RFID)
1. Inductive Coupled RFID Tag dan Capacitive Coupled RFID Tag
a. Inductive Coupled RFID tag terdiri dari dua jenis yaitu yang aktif (yang menggunakan baterai) dan pasif tidak menggunakan baterai, yang tidak menggunakan baterai hanya dapat dibaca saja, sedangkan yang menggunakan baterai dapat dibaca dan ditulis, baik untuk menambah data maupun menghapusnya.
Bahan yang digunakan untuk membuat inductive coupled RFID tag terdiri dari bahan bahan sebagai berikut[3] :
Silicon Microprocessor
Silicon microprocessor adalah sebuah chip yang terletak dalam sebuah tag yang berfungsi sebagai penyimpan data.
Metal Coil
Meta coil merupakan komponen yang terbuat dari kawat alumunium yang berfungsi sebagai antena dan beroprasi pada frekuensi 13,56 MHz. Jika sebuah tag masuk ke dalam jangkauan reader maka antena ini akan mengirimkan data yang ada pada tag kepada reader terdekat.
Encapsulating Material
Encapsulating Matrial adalah bahan yang membungkus tag yang terbuat dari bahan kaca.
b. Capacitive Coupled RFID Tag
Secara struktur Capasitive Coupled RFID tag tidak berubah, tetapi bahan dan ukurannya berubah dengan maksud untuk menekan biaya prosuksi. Capacitive coupled RFID tag terdiri dari bahan sebagai berikut [3] :
o Silicon Microprocessor
Ukuran dalam capacitive RFID silicon microprocessor-nya (3mm2) lebih kecil daripada ukuran inductive RFID. Microprocessor ini dapat menyimpan data sebesar 96-bit, yang mampu menyimpan jutaan angka sekaligus sebagai kode.
o Conductive Carbon Ink
Conductive Carbon Ink adalah tinta karbon yang memiliki sifat dapat menghantarkan listrik. Tinta inilah yang berfungsi sebagai antena.. Tinta ini dicetakkan di atas sebuah kertas yang melapisi silicon microprocessor.
o Kertas
Kertas inilah yang melapisi microprocessor dan tempat tinta dicetakkan. Penggunaan bahan kertas menjadikan label jenis ini mudah dihancurkan bila sudah tidak dipakai.
